BERITAJABAR.ID, Jakarta – Kehadiran akal imitasi (artificial intelligence/AI) telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi sekaligus menantang keberlanjutan industri media. Di tengah perubahan itu, Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) menilai penguatan etika, kemampuan berpikir kritis, dan kepercayaan publik perlu menjadi perhatian utama insan komunikasi.
Persoalan tersebut disampaikan Ketua Umum ISKI Atwar Bajari dalam peringatan hari ulang tahun ke-43 ISKI di Universitas Tarumanagara, Jakarta. Menurutnya, keberadaan ISKI bukan hanya untuk merawat perjalanan organisasi, tetapi juga memperkuat peran ilmu komunikasi dalam menjawab perubahan zaman.
“Pada ulang tahun ke-43 ini, saya mengajukan sebuah tesis: ISKI harus mengubah besarnya komunitas menjadi besarnya kontribusi,” ujar Atwar melalui keterangan persnya, Jumat (16/10).
Menurutnya, lulusan sarjana komunikasi tidak cukup berhenti pada kemampuan memproduksi pesan, tetapi perlu memperkuat penalaran, riset, pemahaman terhadap manusia, dan etika. Oleh karena itu, ISKI perlu memperkuat kontribusi melalui pengembangan kapasitas anggota, peningkatan kompetensi, serta kolaborasi antara akademisi, praktisi, industri, dan berbagai pemangku kepentingan.
“Zaman terus berganti. Tanggung jawab kita terhadap manusia harus semakin besar,” tegas Atwar yang merupakan Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung.
Peran ilmu komunikasi
Pentingnya penguatan kontribusi ilmu komunikasi di era AI juga dikatakan Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Rama Kertamukti saat diskusi peringatan HUT ke-43 ISKI bertajuk “Ketika AI Mengubah Komunikasi: Apa yang Harus Kita Kuatkan?” di Universitas Tarumanagara, Jakarta, Senin (12/10).
Rama mengungkapkan penggunaan AI telah mengubah proses komunikasi. Pemanfaatan AI membuka peluang bagi proses komunikasi yang lebih cepat dan efisien, tetapi juga menghadirkan persoalan terkait autentisitas, bias, privasi, kepengarangan, dan akuntabilitas.
Menurut Rama, perkembangan AI menuntut pengguna dan pelaku komunikasi untuk tidak hanya memahami kemampuan teknologi, tetapi juga mempertimbangkan konteks, etika, serta tanggung jawab manusia dalam proses komunikasi. Penggunaan AI tetap memerlukan penilaian dan pengawasan manusia, terutama ketika berkaitan dengan informasi yang berdampak pada publik.
Dari perspektif industri media, kehadiran AI telah mengubah pola distribusi informasi yang berpotensi mempengaruhi keberlanjutan bisnis perusahaan media.
Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wahyu Dhyatmika mengungkapkan saat ini terjadi perubahan dari search economy menuju answer economy yaitu masyarakat semakin terbiasa memperoleh jawaban langsung melalui layanan berbasis AI. Dampaknya arus kunjungan ke situs berita menurun dan pendapatan media berkurang.
Wahyu mengusulkan agar media memanfaatkan small language models (SLM) yakni model bahasa berukuran lebih kecil yang dikembangkan untuk kebutuhan tertentu. Teknologi ini berpotensi dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan informasi spesifik dan konteks lokal.
“Layanan AI seperti Chatgp, Gemini merupakan bentuk large language models (LLM). Media tidak perlu membuat LLM tetapi mengembangkan SLM yang berisi informasi spesifik dan benar-benar dibuatkan audiens-nya,” jelas Wahyu.
Sementara itu, Rektor Universitas Tarumanagara Amad Sudiro menekankan pentingnya komunikasi yang jelas, jujur, dan bertanggung jawab. Di tengah perubahan sosial dan teknologi, komunikasi memiliki peran dalam membangun kepercayaan, menjembatani perbedaan, serta memperkuat kehidupan bersama.
“Dukungan UNTAR sebagai tuan rumah peringatan HUT ke-43 ISKI bagian dari upaya memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan organisasi profesi komunikasi. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi pengembangan ilmu, praktik, dan ekosistem komunikasi Indonesia,” ungkap Amad.
Dalam peringatan HUT ke-43 ISKI ditandai dengan peluncuran situs web resmi ISKI sebagai bagian dari penguatan informasi dan komunikasi organisasi dengan anggota serta publik.
Turut diisi pula penayangan video ucapan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid yang menyampaikan pesan pentingnya peran komunikasi dalam menghadapi perkembangan teknologi dan dinamika ruang informasi.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng dan penyerahan potongan tumpeng kepada Ketua ISKI DKI Jakarta, Anita Wulandari Prasojo, Ketua Dewan Guru Besar ISKI, Dadang Rahmat Hidayat, serta tokoh ISKI, Atie Rahmiatie.
ISKI berdiri pada 12 Oktober 1983. Memasuki usia ke-43, organisasi ini menegaskan komitmen untuk mengembangkan ilmu komunikasi dan memperkuat kontribusi anggotanya bagi masyarakat.
