Si Raja Hutan, Bob Hasan Meninggal Dunia
User

Si Raja Hutan, Bob Hasan Meninggal Dunia

Jakarta, Beritajabar.id - Pengusaha yang dijuluki Si Raja Hutan, Bob Hasan, meninggal dunia hari ini, Selasa (31/3) pukul 11.00 WIB, di usia 89 tahun. Kabar tersebut beredar di media sosial, seperti disampaikan mantan Sekretaris BUMN Muhammad Said Didu dalam akun Twitter-nya, @msaid_didu.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Baru dapat berita Pak Bob Hasan baru saja meninggal jam 11.00 WIB. Selamat jalan Pak Bob Hasan. Alfatihah buat Pak Bob Hasan," tulis dia.

Meninggalnya Bob Hasan sudah tentu menjadi sorotan publik Indonesia. Selain menjadi salah satu pengusaha ulung dalam negeri, Bob Hasan juga merupakan sosok yang cukup aktif mengurusi Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) di sebagian besar hidupnya, hingga akhirnya sempat viral karena berhasil mengangkat nama pelari Lalu Muhammad Zohri ke panggung dunia.

Gaya bicaranya yang nyentrik membuat setiap orang yang sempat bertemu dengannya selalu ingat bagaimana sang almarhum berkelakar. Jadi sebenarnya siapa sih Bob Hasan? Ini lima hal yang perlu kamu tahu tentang dia seperti dihimpun IDN Times:

1. Diasuh oleh Jenderal Gatot Subroto

Bob Hasan merupakan pria berdarah Tiongkok yang lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada Februari 1931. Singkat cerita ia besar dengan asuhan Jenderal Gatot Subroto, dan membuatnya memiliki lingkungan yang akrab dengan dunia militer.

Bukti lekatnya hubungan Bob Hasan dengan militer adalah ketika ia mendapatkan posisi khusus di mata Soeharto, semasa duduk sebagai pejabat ABRI (kini TNI) hingga menjadi presiden kedua Indonesia.

2. Pengusaha ulung pengolahan kayu

Salah satu hubungan akrab antara Bob Hasan dan Soeharto terjalin karena keduanya menjadi mitra bisnis di berbagai bidang, salah satunya ialah bisnis pengolahan kayu. Jejak Bob Hasan di bidang usaha itu dapat dilihat dari bagaimana Kalimanis Group, sebuah perusahaan kayu yang ia pimpin, menjelma menjadi sebuah usaha berskala besar. Bagaimana tidak, Kalimanis Group yang dimiliki oleh Bob Hasan itu konon sempat memiliki 2 juta hektare lahan hutan Kalimantan.

Pada 1970, Bob Hasan tercatat pernah menjadi mitra Indonesia bagi perusahaan asing yang ingin berbisnis kayu di Tanah Air. Ia pun memegang saham mayoritas Georgia Pacific di Indonesia, perusahaan pengolahan kayu asal Amerika Serikat yang memproduksi dan mendistribusikan tisu, pulp, kertas, toilet, hingga bahan kimia yang berkaitan.

Kekuasaannya di bisnis kayu membuat ia menyandang julukan Si Raja Hutan. Ketika tengah berada di atas angin, Kalimanis Group kemudian membikin anak usaha di berbagai macam sektor, mulai dari asuransi, keuangan, otomotif, dan bidang-bidang lainnya.

Tak berhenti di sana, kiprah Bob Hasan dalam urusan kayu semakin melejit setelah ia ditunjuk sebagai Ketua Asosiasi Panel Kayu Indonesia (APKINDO). Dengan posisi itu, Bob Hasan mendapat kemewahan dari Soeharto berupa wewenang melakukan ekspor, penerbangan, pemasaran, hingga penetapan harga sendiri. Di titik itulah pundi-pundi uang Bob Hasan semakin bertambah, meski akhirnya operasional APKINDO disetop karena krisis ekonomi 1997.

3. Berbisnis di bidang penerbangan juga media massa

Kedekatan Bob Hasan dan Soeharto ternyata tak hanya berkisar di urusan pengolahan kayu saja, melainkan juga penerbangan di Indonesia sekitar tahun 1966.

Seiring berjalannya waktu, Bob Hasan juga memulai bisnisnya di industri media massa, dengan membikin majalah Gatra pada tahun 1994. Sudah tentu, karena kedekatannya dengan Soeharto, Gatra menjadi media massa yang pro pada pemerintah Orde Baru dengan tampilan mirip majalah TIME (dengan border merah di sekeliling sampul).

4. Menjabat menteri hingga pernah dipenjara

Perjalanan hidup Bob Hasan sungguh penuh gejolak. Selain wara-wiri mendapat kemewahan untuk urusan usahanya, kedekatannya dengan Soeharto pun membuat ia ditunjuk sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada Maret-Mei 1998.

Setelah Soeharto lengser pada Mei 1998, Bob Hasan kemudian kembali duduk sebagai pengusaha. Namun, pada 2001, kedekatannya dengan Soeharto berbuah pahit karena ia ditetapkan sebagai tersangka korupsi penyalahgunaan kekuasaan. Tak cuma itu, di waktu yang sama, ia pun dianggap menjadi dalang pembakaran jutaan hektare lahan di Pulau Sumatera.

Setelah divonis bersalah oleh pengadilan, Bob Hasan mendekam di Lembaga Permasyarakatan Cipinang. Kemudian ia dipindahkan ke LP Nusakambangan, sebelum akhirnya dinyatakan bebas bersyarat pada Februari 2004.

5. Mengabdi pada PB PASI

Hampir sebagian besar hidup Bob Hasan dihabiskan untuk mengabdi pada olahraga Indonesia lewat kepengurusannya di Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI). Bagaimana tidak, Bob Hasan sudah mengetuai PASI sejak pemerintahan Soeharto, ketika ia berusia 47 tahun, hingga hayatnya berakhir di usia 89 tahun.

PASI di bawah kepemimpinan Bob Hasan sempat mengorbitkan atlet-atlet Indonesia kelas dunia hingga mendapat cap olimpian . Para atlet macam Dedeh Erawati (pelari gawang), Trianingsih (pelari jarak jauh), Maria Natalia Londa (atlet lompat jauh dan lompat jangkit), berhasil membanggakan Indonesia lewat program latihan yang ia canangkan selama berada di PASI.

Yang terakhir dan bikin bangga Indonesia, ialah Lalu Zohri di mana berhasil menjadi juara dunia U-20 dalam kategori lari 100 meter dengan capaian waktu 10,18 detik.

Selama memimpin PASI, bukan jarang Bob Hasan mengucurkan duit pribadinya guna menghidupi keseharian atlet. Di antaranya ialah mendatangkan pelatih asing dengan harga mahal, juga menyiapkan bonus bagi atlet yang berprestasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, Bob Hasan sering mengeluh tentang respons pemerintah terhadap olahraga atletik. Menurut dia, pemerintah seakan tak memedulikan olahraga atletik karena bukan berdiri sebagai olahraga populer di kalangan masyarakat. Bagi almarhum, pemerintah hanya fokus untuk mengurusi nasib sepak bola Indonesia yang mendapat eksposur besar dari publik.

Photo : google image

 

TAGS: nasional

Image

Write a Facebook Comment

Leave a Comments

UPDATE COVID-19

Jejak Pendapat

Penyebaran COVID-19 Sangat Memprihatinkan, Setujukah Indonesia Lockdown ?