Mengecam Aksi KKB Membakar BTS di Papua
User

Mengecam Aksi KKB Membakar BTS di Papua

BERITAJABAR.ID - KKB berulah lagi dengan membakar BTS tower milik salah satu perusahaan telekomunikasi. Peristiwa ini membuat komunikasi terhambat, karena tidak ada alat yang meneruskan sinyal. KKB benar-benar ngawur saat membakar BTS, karena mengacaukan suasana dan menyusahkan orang banyak.

Papua dan Papua Barat adalah wilayah yang dianugerahi kecantikan alam, dengan hutan dan pantai yang eksotis. Namun sayang keindahan ini tercoreng oleh kaum separatis alias kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang ngotot ingin merdeka. Padahal pemerintah sudah membangun banyak infrastruktur dan fasilitas, namun mereka menutup mata.

KKB melakukan aksi protes dengan berbagai cara. Terakhir, mereka membakar 2 tower BTS milik perusahaan telekomunikasi. Lokasinya di perbukitan Pingeli di Distrik Omukia, dan di Distrik Maggubi kabupaten Puncak. Padahal salah satu BTS baru berdiri pada medio desember 2020. Namun terbakar sia-sia karena ulah kelompok kriminal bersenjata.

AKBP Dicky Hermansyah Saragih, Kapolres Puncak, membenarkan bahwa ada 2 BTS yang dibakar KKB. Beliau mengetahuinya dari laporan masyarakat dan penyelidikan di lapangan. Ketika petugas dari Ring Palapa memeriksa 2 BTS dengan helikopter, maka ketahuan bahwa 2 tower tersebut dalam keadaan terbakar.

Saat  2 BTS terbakar, maka komunikasi warga sipil Papua otomatis terganggu. Karena tidak ada tower yang meneruskan sinyal HP. Akibatnya sungguh fatal, karena yang hilang adalah sinyal 4G. Sehingga masyarakat di kawasan Puncak tidak bisa menelepon, mengirim pesan WA, maupun mengakses internet.

Akses internet yang mati total sangat meresahkan, karena anak-anak akan kesulitan untuk belajar di rumah. Kelas online tak bisa dilakukan dan para murid tidak bisa menyetor tugas ke bapak dan ibu guru. Mereka bingung karena tak bisa mengakses Zoom dan WA, lalu harus menghentikan kelas selama tower belum berfungsi.

Selain itu, orang dewasa juga kesusahan karena tak bisa menggunakan HP. Bagaimana jika ada hal yang urgent, misalnya harus menelepon tenaga medis ketika ada kecelakaan? Atau ada istri yang mau melahirkan namun tak bisa menghubungi gadget suaminya. KKB benar-benar kejam dengan memutus jalur komunikasi dan menyusahkan banyak orang.

Belum diketahui berapa nominal kerugian yang didera oleh perusahaan komunikasi yang memliki tower BTS tersebut. Namun dipastikan mereka pusing karena harus mengganti tower dengan yang baru, dan ada biaya lagi untuk pemasangan, operasional, dan lain-lain. KKB jadi makin dibenci oleh banyak orang karena membuat berbagai kekacauan.

Entah apa yang ada di pikiran KKB saat membakar 2 tower BTS. Mungkin mereka kira dengan memutus jalur komunikasi, pemerintah akan kesulitan. Namun mereka tak memikirkan dampaknya bagi warga sipil yang notabene saudara sesuku, sebangsa dan setanah air.

Bagaimana bisa mewujudkan kemerdekaan Papua jika sering merugikan masyarakat di Bumi Cendrawasih? Cara-cara kekerasan yang dipakai oleh KKB malah jadi bumerang, karena warga sipil makin membenci mereka. Juga akan menolak jika bergabung ke dalam Republik Federal Papua Barat dan melengos saat diberi bendera bintang kejora.

Untuk apa KKB ngotot memerdekakan Papua? Saat ini di Bumi Cendrawasih sudah jauh berbeda dengan zaman orde baru, karena sudah banyak sekali modernitas di sana. Bahkan Papua ditunjuk jad tuan rumah PON 2021, sehingga membuat masyarakat di luar Papua melihat berbagai kemajuan di sana. Belum tentu jika Papua merdeka, mereka membuat hal yang sama.

Kekejaman KKB membuat masyarakat makin antipati, karena mereka tega membakar 2 BTS tower di wilayah Puncak, Papua. Ketika BTS tak berfungsi, maka otomatis masyarakat tak bisa berkomunikasi. Akan sangat pusing ketika tak bisa menelepon maupun mengakses internet. KKB perlu diberantas sampai ke akar-akarnya, agar tak lagi mengacau di wilayah Papua.

  Oleh : Timotius Gobay )* Penulis adalah warganet tinggal di Gorontalo

TAGS: nasional

Image

Write a Facebook Comment

Leave a Comments

UPDATE COVID-19

Jejak Pendapat

Penyebaran COVID-19 Sangat Memprihatinkan, Setujukah Indonesia Lockdown ?