Genderang Digital oleh Milenials 2019, Impulsif atau Katalis ?
Oleh : Cavin Dennis Tito Siregar

By Adminjabar 21 Feb 2019, 10:53:23 WIBHukum

Genderang Digital oleh Milenials 2019, Impulsif atau Katalis ?

Keterangan Gambar : Genderang Digital oleh Milenials 2019, Impulsif atau Katalis ?


Tidak terasa masyarakat Indonesia akan kembali menghadapi masa-masa terpenting dalam sejarah Indonesia. Keputusan atas pilihan yang diambil akan berpengaruh pada aspek-aspek vital kehidupan seluruh kalangan masyarakat, tidak terbatas pemerintah untuk 5 tahun ke depan. Ditambah oleh perkembangan zaman yang semakin menuntut masyarakat menerapkan nilai efektivitas dan efisiensi pada sektor produksi, konsumsi dan distribusi. Pemerintah yang diharapkan menjadi penuntun dan pembimbing seringkali tidak dapat dipercaya bahkan menjadi “faktor penghambat” keberhasilan kemajuan bangsa Indonesia. 
Tahun 2019 merupakan tahun terpenting bagi Indonesia. Pesta demokrasi dan partai politik semakin meriah dan menjadi pemberitaan di setiap hari menjelang tahun 2019. Masyarakat dengan piihannya dan pemerintah dengan pilihannya selalu menjadi pembicaraan di setiap media yang ada. Waktu menunjukkan kekuatan pasangan yang satu dengan yang lainnya berdasarkan persentasi survey. Dengan diperkuat oleh kampanye yang menjanjikan masyarakat pastinya menuju hal yang lebih baik dari sekarang. Hal ini mencerminkan nilai demokrasi yang dianut oleh bangsa Indonesia. Sehingga partisipasi setiap kalangan masyarakat sangat penting.
Termasuk Millenials, 90 juta jiwa, mencakup hampir 34 % penduduk Indonesia. Sebenarnya siapakah millennial ? Kata millennial merupakan kata yang sudah tidak asing di benak masyarakat. Secara umum millennial berpacu pada masyarakat muda di kalangan umur 20-34 tahun. Apakah yang membuat mereka spesial dan seringkali menjadi topik diskusi menarik ? Ketika pembangunan nasional secara masif berkembang dan fokus utama pada pembangunan ekonomi, “Negara-Negara Berkembang” dianjurkan mengikuti framework kerja “negara-negara maju”. Meskipun hal tersebut tidak rerang-terangan dilakukan, namun setiap negara membutuhkan sebuah “role model” dan bahkan bekerja sama dalam mencapai Keunggulan Komparatif (Theory of Comparative Advantage).
Gagasan bahwa pembangunan hanya dapat dicari melalui jalur "negara maju" kemudian menyebabkan konflik dengan "negara berkembang." framework kerja mereka berkembang dikarenakan sebagian besar populasi penduduk dewasa keatas jauh lebih banyak ketimbang kalangan millenial. "Negara-negara berkembang" memiliki populasi milenial yang tinggi dan jika mereka mencoba mengikuti framework pembangunan di negara-negara berkembang, mereka akan mempengaruhi perkembangan sebagian besar populasi mereka. Dengan kata lain, tidak akan banyak pembangunan yang dilakukan di negara-negara ini karena mereka tidak berfokus pada pengembangan sebagian besar populasi mereka. “Maka, daerah-daerah, di mana terdapat tonjolan milenial, akan memiliki tingkat perkembangan yang lebih rendah”.
Apakah hal tersebut adalah sebuah fakta atau bahkan opini belaka? Dalam satu sisi, ekonomi, populasi penduduk merupakan salah satu penghambat Indonesia menuju sebuah negara maju. Padahal Ekonomi Indonesia kian membaik meskipun diterjang isu melemahnya rupiah terhadap dollar AS bahkan berhasil menjadi salah satu negara teratas ekonomi terkuat di dunia, diantara kalangan negara maju dan terkenal lainnya. Di sisi lain, Indonesia merupakan negara kuat dan sangat menjanjikan bertumbuh pesatnya populasi OKB (Orang Kaya Baru). Millenial menjadi salah satu investasi menarik di setiap mata pemerintah dan institusi negara-negara di dunia. Dan dengan yakin, Indonesia memilikinya.
Pastinya, tantangan menjadi faktor utama yang harus segera diatasi dalam menjamin predikat tersebut. Era Digital, Disrupsi, Masivitas Distribusi Informasi Bodong, dan banyak lagi menjadi salah satu kartu tanda pengenal zaman saat ini. Tidak habis-habisnya dan terlalu munafik dikatakan sangat baik dan pasti baik bagi millennial. Benar adanya baik namun secara spesifik bertumbuh menjadi sumber masalah. Cikal-Bakal perpecahan persaauan dan penguatan terhadap cara berpikir yang dianggap benar dan baik walau secara pribadi atau komunitas.
Media digital menjelaskan dan membuktikan hal tersebut dengan nyata. Media digital yang awalnya dipakai sebagai penyebar informasi dan komunikasi jarak jauh, beralihfungsi menjadi pusat kebohongan bagi milenial dan setiap kalangan masyarakat. Penyebaran informasi di media digital dapat dillustrasikan sebagai sebuah diagram reproduksi bakteri. Dimulai dari sel induk, situs, portal dan web berita pemberitaan dan pusat informasi, membentuk sekat dan persiapan reproduksi secara aseksual (tidak kawin). Sama seperti platform pemberitaan dan pusat informasi, mencari informasi dan berita hangat. Setelah itu, sel induk akan menggandakan materi genetic dan pelekukan dinding sel. Disaat ini, platform tersebut, menyebarkan berita, yang awalnya hanya sebuah informasi biasa akan terlihat luar biasa dengan bumbu-bumbu pernyataan dan penyajian fakta. Di saat inilah, terlihat masivitas distribusi informasi bodong berawal. Lekukan dinding sel induk menunjukkan beberapa platform berita melekukkan informasi atas penyajian yang memikat padahal bodong.
Pembentukan sekat dinding sel sehingga terpisah menjadi dua sel baru, memisahkan 2 jenis perspektif pemberitaan pada umumnya, terpercaya atau merusak. Dan penyebaran informasi tersebut bertumbuh dan terus bertumbuh dan bertambah berdasarkan pandangan yang dianggap benar oleh setiap induvidu dan komunitas. Hal ini sangat berbahaya dan merusak bagi millennial apabila “lekukan dinding sel” tersebut dijadikan kebenaran dan sumber yang mereka percayai. Bila disimbolkan, penyebaran informasi melalui media digital bagai sebuah genderang, yang apabila dipukul semakin kuat maka semakin terdengar oleh banyak orang. 
Pertanyaan sekarang ialah, bagaimana kelanjutannya? Banyak yang berkata, milenial ada baiknya kamu segera menjauh dan mengurung niat untuk menggunakan media seperti itu. Jika hal ini benar, siapakah yang berwenang menyeleksi mana media yang baik atau buruk? Atau apakah adakah pihak yang benar-benar dapat melaksanakan tanggung jawab besar tersebut secara aktif dan menyeluruh? Jawabannya ada, milenial itu sendiri. Di tengah tahun politik, keberadaan informasi bodong atau sering disebut hoax umum terjadi. Bahkan tidak dapat disebut sebagai media digital apabila keberadaaan informasi tersebut tidak dianggap. 
Saatnya milenial menentukan, tidak lagi mungkin namun iya atau tidak. Banyak hal yang menjadi alasan kuat mereka berkata iya atau mencegah mereka berkata tidak. Apakah informasi yang mereka dapat, handal dan terpercaya dan baik atau tidak. Media sudah semakin maju, millennial juga. Media digital bukanlah hal yang mengancam mereka untuk memilih dan pilihan mereka bukanlah hal yang tidak baik dengan segala macam pemberitaan ganjil yang merusak. Optimis adalah hal utama dan tahun 2019 merupakan tahun yang menjanjikan bagi setiap aspek pembangunan milenial juga nasional.



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Online Support (Chat)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Siapakah Calon Presiden Dan Wakil Presiden Republik Indonesia Periode 2019 - 2024
  1. Joko Widodo - Maruf Amin
  2. Prabowo Subianto - Sandiaga Salahudin Uno

Komentar Terakhir

  • ColoMiliCAr

    wec [url=https://onlinecasinosww.com/#]casino online slots[/url] fms ...

    View Article
  • JaneBer

    <a href="https://viagra4.com/">buy viagra pills</a> ...

    View Article
  • GuestPainc

    [url=https://7440.info/alte-frauen-wollen-ficken/]alte frauen wollen ficken[/url] ...

    View Article
  • CruityGrieque

    zto [url=https://onlinecasinosww.com/#]no deposit casino[/url] ...

    View Article